Dinsos Kabupaten Bogor dan Pihak Terkait Harus Sigap Masalah Bansos Ditemukan Warganya Kelaparan

Sukaharja, (MR) – Sudah jatuh tertimpa tangga, pepatah itu nyaris dirasakan oleh hampir sebagian besar keluarga miskin saat ini yang kehidupannya serba kekurangan.
Bagaimana tidak dalam kondisi normal saja untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka harus berjuang keras, ditambah lagi dengan adanya wabah pandemi Covid-19 yang sekarang sedang melanda, membuat kehidupan mereka bak di ujung tanduk, kekurangan pangan, kelaparan menghantui setiap detik kehidupan mereka. Karena ruang gerak untuk mencari rejeki semakin sulit dengan adanya himbauan berdiam dirumah dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh Pemerintah.
Hal itu dialami alah satunya oleh keluarga ibu Sa’anih (62th), warga RT 05 RW 01, Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor. Keluarga miskin yang tinggal hanya berdua saja dengan anaknya yang sudah lama menganggur dan hanya bekerja serabutan tersebut, harus menelan pahit getirnya kehidupan yang mereka sandang.
Saat dijumpai wartawan media ini di kediamannya, ibu Sa’anih yang tergolek lemah ditempat tidurnya,  tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa mengerang kesakitan, sembari sesekali mencoba membuka matanya menatap kehadiran tamu yang berkunjung kerumahnya. Demi melihat tatapan matanya seakan-akan ia ingin bercerita banyak tentang perihal sakit dan derita yang ditanggungnya.
Sang anak sulung Andri Irawan (Onggo) yang setia menjaga dan merawatnya pun hanya bisa menceritakan kepedihan hidupnya, dan kekhawatiran atas keadaan sang ibunda tercinta. “Sejak ibu jatuh beberapa waktu lalu, ibu langsung tak bisa berjalan, ditambah komplikasi dengan penyakit lainnya membuat penyakit ibu semakin parah hingga tak kuasa lagi bangun dari tempat tidur. Untuk semua keperluannya semua saya yang urus,” ucapnya lirih.
Onggo pun melanjutkan, sebenarnya Ibu saya sempat dirawat selama seminggu di RSUD dengan menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS), kata dokter pinggul ibu saya harus di operasi. Namun karena kadar Hemoglobin (HB) ibu saat itu rendah, dokter pun tak berani mengambil resiko melakukan operasi, dan memutuskan agar ibu saya rawat jalan dulu dirumah.
“Nah setelah pulang dari rumah sakit tersebut, keadaan ibu saya malah semakin parah. Selain tidak bisa bangun lagi, dia juga tidak bisa lagi menelan makanan, nasi ataupun bubur. Akhirnya saya menyiasati nya dengan memberikan minuman sereal, setiap pagi siang dan malam ibu hanya minum itu saja,” ungkapnya.
Karena keadaan saya yang tidak punya penghasilan, dan harus standby mengurus ibu, ya untuk kebutuhan sehari-hari kalo saya juga kebingungan, kalo ada uang buat beli beras, ya saya beli, tapi kalo ga ada, ya mau gimana lagi, beruntung terkadang ada tetangga yang peduli datang membantu memberikan makanan, ucap Onggo dengan nada setengah pasrah.
Saat ditanyakan apakah pihak RT/RW setempat mengetahui kondisi keluarga, dia menjawab, RT sudah tahu tapi karena memang bantuan pangan dari pemerintah terkait dampak corona belum turun, ya mau ga mau harus menunggu. Sedangkan meskipun tergolong keluarga miskin saya ataupun ibu saya tidak termasuk dalam DTKS penerima bantuan PKH atupun BPNT dari pemerintah, ibu saya hanya punya KIS untuk keperluan berobat saja.
Keterbatasan pengetahuan sayalah sehingga saya tidak tahu harus meminta bantuan ke siapa, saya hanya berharap ibu saya bisa berobat dan sembuh seperti sediakala. Mudah-mudahan dengan ini pihak pemerintah desa/kecamatan ataupun kabupaten bogor bisa memperhatikan keadaan dan kondisi kami,” harapnya.
Pihak Desa yang dikonfirmasi melalui selaku Kasi Kesranya Mumuh mengatakan belum tau kejadian atas warganya tersebut, dengan nada kaget menjawab, ” waduh saya baru tau kalo ada kejadian seperti itu dengan warga kami, kalo anaknya si Onggo saya kenal, karena saya juga tinggal tidak jauh dari sini hanya beda RT saja,” ucapnya.
Mumuh menambahkan, coba nanti akan saya sampaikan  dulu ke kades untuk di tindak lanjuti, kalau untuk bantuan PKH atau BPNT dari pemerintah, keluarga tersebut memang tidak termasuk penerima, karena yang bersangkutan belum diajukan ke pihak Dinsos kabupaten bogor, jelas Mumuh.
Sementara itu Kepala Desa Cimandala yang diberikan informasi tersebut dan coba dimintai tanggapannya, melalui pesan WhatsApp, hanya menjawab singkat saja “belum dapat info kang” isi pesan balasan WhatsApp yang media ini terima. (Jefferi)
Reporter : Santo

Related posts